Mental Health
Saya Carlos Petra Avito dari Fakultas Teknik, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Cluster 51
“Tiga modal pertama yang harus disiapkan oleh anak muda untuk masa tuanya, yaitu yang pertama kesehatan, kedua kesehatan dan ketiga kesehatan” Mario Teguh. Dari quotes diatas memberitahukan bahwa kesehatan itu sangat berharga dan sangat penting, baik jasmani maupun rohani atau mental.
Sehat dan sakit merupakan kondisi biopsikososial yang menyatu dalam
kehidupan manusia. Pengenalan konsep sehat dan sakit, baik secara fisik maupun psikis
merupakan bagian dari pengenalan manusia terhadap kondisi dirinya dan bagaimana
penyesuaiannya dengan lingkungan sekitar (Dewi, 2012). Pemahaman akan mental
yang sehat tak dapat lepas dari pemahaman mengenai sehat dan sakit secara
fisik. Berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya hubungan antara kesehatan fisik dan mental individu, dimana pada individu
dengan keluhan medis menunjukkan adanya masalah psikis hingga taraf gangguan mental.
Gangguan mental atau gangguan jiwa adalah penyakit yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya (Willy, 2019). Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam
kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang (Halodoc, 2019).
Penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik,
misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag. Stress dan depresi merupakan salah satu faktor penyebab orang
mengalami gangguan mental. Hal ini banyak terjadi pada para pekerja. Tuntutan
target produksi yang tinggi membuat pekerja merasa terbebani
baik secara fisik maupun mental (Muslimah, Caprianingsih, & Djunaedi,
2015). Hal ini menimbulkan beban kerja baik fisik maupun mental pada karyawan,
pekerjaan yang monoton dan berlangsung dalam waktu yang lama dapat menimbulkan
rasa bosan atau jenuh. Rasa bosan dikategorikan sebagai kelelahan (Eko, 2004).
Rasa bosan adalah manifestasi dari reaksi adanya suasana yang monoton (kurang
bervariasi). Oleh karena itu, dibutuhkan suatu solusi untuk mengurangi stress
maupun depresi yang menjadi salah satu penyebab kesehatan mental dengan inovasi, kreasi dan teknologi yang sedang berkembang.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia
(PDSKJI), dr. Eka Viora, SpKJ, mengatakan untuk di Indonesia terdapat sekitar
15,6 juta penduduk yang mengalami depresi (Azizah, 2019). Berikut juga ditampilkan sebuah
data dari Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
pada tahun 2018 mengenai penduduk Indonesia yang berumur lebih dari sama dengan
15 tahun yang mengalami depresi.
Sebuah data juga menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang terjadi pada penduduk Indonesia yang berumur lebih dari sama dengan 15 tahun dari tahun 2013 sampai dengan 2018. Riskesdas Kemenkes juga menuturkan prevalensi Gangguan Mental Emosional (GME) sebesar 9,8 persen dari total penduduk berusia lebih dari 15 tahun. Prevalensi ini menunjukkan peningkatan sekitar enam persen dibanding pada 2013.
Pada zaman modern ini, banyak manusia yang mengalami depresi, stress, kecemasan, dan kegelisahan. Stress dan depresi yang dibiarkan terlarut dapat membebani pikiran dan mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi lemah. Depresi merupakan gangguan medis yang memengaruhi perasaan dan pikiran berupa perasaan sedih yang terus menerus dan adanya rasa hilang minat sebelum melakukan suatu aktivitas (Praptikaningtyas, Wahyuni, & Aryani, 2019). Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapat perhatian serius. Di negara-negara berkembang, WHO memprediksikan bahwa depresi akan menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah penyakit jantung (Lubis, 2009). Orang yang mengalami depresi, umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fugsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi (Rathus, 1991). Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat. Berawal dari stress yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi.
Berdasarkan data WHO pada tahun 1980,
hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di Negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi. Dalam suatu penelitian di Amerika, 28 dari 32 orang
pasien, telah mengalami stress dan kehidupan yang tragis sebelum
terserang penyakit. Para dokter di John Hopkin Medical School menemukan
bahwa orang-orang yang emosional dan pemurung cenderung menderita penyakit
serius seperti kanker, darah tinggi, jantung, dan berumur pendek. Berdasarkan penelitian Katon dan
Sullivan pada tahun 1990 diperkirakan 15%-33% orang yang pergi ke dokter,
sebenarnya menderita penyakit karena emosional seperti stress, khawatir,
ketakutan, frustasi, dan rasa tidak aman sehingga memunculkan berbagai
keluhan seperti sariawan, serangan jantung, susah tidur, usus buntu, diabetes, asma, skizofrenia, dan gangguan pencernaan bahkan kanker. Di Indonesia, tinjauan kesehatan rumah tangga yang dilakukan di 11 kota pada
tahun 1995 menunjukkan bahwa 185 dari 1000 orang menderita gangguan mental dan
16,2% dari mereka mengalami depresi. Survei yang dilakukan Persatuan Dokter
Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) menyebutkan sekitar 94% masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat
ringan hingga paling berat (Lubis, 2009).
Pada depresi ringan dan sedang, penderita tidak perlu mendapat
perawatan medis. Depresi ringan dan sedang dapat ditangani sendiri dengan
berbagai alernatif penanganan dan pencegahan depresi, misalnya pengaturan diet, olahraga dan relaksasi (Lubis, 2009). Berbagai bentuk
usaha untuk menghadapi stress oleh manusia, dengan dilatarbelakangi oleh
nilai-nilai dan budaya yang melingkupi dirinya. Salah satu diantaranya adalah
terapi pijat sebagai salah satu alternatif pilihan untuk mencapai proses
teuraputik dari sisi fisik maupun psikis. Beberapa tempat di belahan dunia ini,
tradisi terapi pijat merupakan budaya yang masih dipelihara untuk harmonisasi
fisik dan psikis manusia. Pijat adalah sebuah seni terkait dengan sentuhan dan
manipulasi kelenturan untuk mencapai hasil teuraputik seperti relaksasi mental,
kenyamanan dan kesembuhan. Pijat dapat menurunkan rasa nyeri melalui relaksasi otot dan mengendurkan ketegangan-ketegangan fikiran (Ree,
Noble, & Pasvogel, 2003).
Untuk membantu mengurangi angka stress dan depresi, dirancang suatu teknologi dengan konsep padu padan modern dan
tradisional. Teknologi tersebut bernama Codeudae ( Cold Helmet with
Music and Massage ) dengan desain modern. Bentuk teknologi
ini menyerupai helm pada umumnya, namun ditambahkan suatu teknologi khusus yang
memberikan sensasi dingin pada kepala pada saat dipakai dengan dilengkapi
beberapa tombol. Tombol-tombol ini akan menjadi pengaturan pada saat pemakaian,
yaitu pemberi sensasi dingin, musik dan refleksi. Refleksi ini berupa pijatan
pada kepala yang dapat merelaksasikan nyeri kepala tegang otot yang disebabkan oleh stress yang sering terjadi.
Karena, pencetus Tension Type Head (TTH) ini antara lain,
kelaparan, dehidrasi, pekerjaan beban yang terlalu berat, dan perubahan
pola tidur. Stress dan konflik emosional adalah pemicu tersering TTH. Gangguan
emosional berimpliksi sebagai faktor risiko TTH, sedangkan ketegangan mental
dan stress adalah faktor-faktor tersering penyebab TTH. Asosiasi positif
antara nyeri kepala dan stress terbukti nyata pada penderita TTH
(Anurogo, 2014).
Pada era sekarang yaitu era Revolusi Industri 4.0 banyak
orang yang mengalami masalah pada kesehatan mental mereka. Hal ini diakibatkan oleh stress
yang berkepanjangan dan berakibat depresi. Apabila tidak dicegah maupun ditangani sejak dini
dapat berakibat pada kematian. Stress yang sering terjadi ini juga
menyebabkan nyeri kepala otot tegang (TTH). Sehingga, dibutuhkan suatu solusi baik
mengurangi, mencegah maupun mengatasi kesehatan mental yang melemah.
Codeudae ( Cold Helmet With Music and Massage )
dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mengurangi stress. Konsep tradisional dengan menampilkan kesan modern diharapkan
dapat menjadi solusi akan masalah yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar